menjahit celana panjang pria

Langkah – langkah menjahit celana panjang pria:

  1. Menjahit kupnat
  2. Menjahit saku paspol/saku vest
  3. Menjahit saku dalam
  4. Menjahit resleting
  5. Menjahit golbi
  6. Menjahit sisi kanan dan kiri
  7. Menjahit ban pinggang
  8. Menyatukan ban pinggan dengan pipa celana

(Prakarya dan kewirausahaan Tata Busana di Madrasah Aliyah. Penulis Dr.Suprihatiningsih. Penerbit deepublish)

Busana pada status sosial di tengah – tengah kelompok masyarakat

Busana pada status sosial di tengah – tengah kelompok masyarakat merupakan kesepakatan komunikasi bersama dinamakan kesepakatan karena masyarakat tidak melakukan protes terhadap busana yang dipakai oleh status sosial tertentu. Kesepakatan tersebut ada tiga macam sebagai berikut:

  1. Adanya komunikasi perintah dari atasan seperti pemerintah. Busana status sosial ditengah – tengah kelompok masyarakat yang merupakan hasil komunikasi perintah dari pemerintah, seperti baju batik diari jumat bagi semua pegawai negeri di Indonesia. Penggunaan baju batik di hari Jumat oleh semua pegawai negeri merupakan kesepakatan bersama karena tidak ada yang memprotes komunikasi tersebut baik dari pegawai negeri sendiri maupun dari status sosial masyarakat lainnya.
  2. Adanya kesepakatan bersama antar anggota status sosial yang sama. Misalnya seragam ibu – ibu pengajian. Busana tersebut merupakan hasil musyawarah antar ibu agar menjadi alat komunikasi tentang statusnya. Busana seragam ibu – ibu pengajian tersebut juga merupakan kesepakatan bersama karena orang yang berada diluar status sosialnya tidak melakukan protes terhadap busana yang dikenakan.
  3. Ada pula kesepakatan yang terjadi dengan sendirinya. Busana seperti ini seperti busana yang biasa dikenakan oleh petani di sawah, ibu – ibu di pasar, anak – anak saat bermain, dan lainnya. Petani menggunakan pakaian yang jelek saat disawah, bahkan cenderung kotor. Hal ini bukan karena tidak memiliki baju yang bagus, melainkan karena bergelut dengan lumpur dan sebagainya. Busana seperti ini sudah disepakati bersama.

(Komunikasi dibalik busana. Penulis Sihabuddin. Penerbit Arruzz Media 2019)

Tujuan media massa

Tujuan media massa mendidik masyarakat terkait dengan busana adalah sebagai berikut:

  1. Etika. Semakin lama busana semakin banyak macamnya sehingga semakin banyak pilihan bagi masyarakat untukmemakai model busana sesuai keinginannya. Keinginan masyarakat tentunya berbeda – beda tergantung dari individu masing – masing. Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tidak begut memerhatikan atau tidak memahami etika berbusana yang benar, akan seenaknya berbusana sesuai kehendaknya. Indonesia sebagai bangsa yang sangat menjunjung etika atau kesopanan, tentu sangat ketat menjaga norma – norma kesopanan. Maka dari itu, sering terlihat anjuran untuk berbusana sesuai dengan etika yang berlaku di masyarakat. Anjuran tersebut sering juga terlihat diberbagai media massa, seperti yang dilakukan penceramah, tokoh masyarakat dan sebagainya.
  2. Estetika. Estetika berbusana memang perlu dijaga agar tetap nyaman untuk diri sendiri dan orang lain. Busana tanpa estetika tidak nyaman dipakai, bahkan membuat seseorang tidak percaya diri. Maka dari itu, di berbagai media massa ada program atau halaman khusus untuk tutorial busana. Hal ini karena sangat penting bagi orang yang suka sekali menjaga penampilan.

(Komunikasi dibalik busana. Penulis Sihabuddin. Penerbit Arruzz Media 2019)

Ragam hias di Indonesia

Ragam hias di Indonesia, berdasarkan pada pola dan bentuk visualnya, dbagi dalam klasifikasi sebagai berikut:

  1. Ragam hias geometris adalah ragam hias yang mengulang suatu bentuk baku tertentu dengan ukuran tertentu dalam komposisi yang seimbang pada seluruh sisinya.
  2. Ragam hias tumbuh – tumbuhan adalah ragam hias yang mengambil inspirasi dari tumbuh – tumbuhan pada wilayah tertentu untuk dimodifikasi menjadi ragam hias yang mencerminkan ciri khas wilayah tersebut.
  3. ragam hias makhluk hidup adalah ragam hias yang mengambil inspirasi dari makhluk hidup di darat, laut, dan udara pada wilayah tertentu dan dini – difikasi menjadi ragam hias khas wilayah tersebut. Ragam hias ini biasanya dimasukan dalam kelompok ragam hias untuk menggambarkan dunia tengah.
  4. Ragam hias dekoratif adalah ragam hias yang bersifat artifisial dan biasanya merupakan penggabungan dari beberapa inspirasi ragam hias pada kelompok yang ada sebelumnya yang dimodifikasi sehingga menjadi sebuah bentuk ragam hias yang baru dan memiliki nilai estetika tersendiri.

(Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Ragam hias kerajinan tekstil tradisional dan modern

Ragam hias kerajinan tekstil tradisional dan modern. Ragam hias dan warna pada tekstil tradisional umumnya memiliki simbol dan makna tertentu, sedangkan pada tekstil modern ragam hias cenderung berfungsi sebagai nilai tambah estetika atau keindahan.

  1. Ragam hias murni ialah ragam hias yang hanya berfungsi untuk memberi nilai tambah estetika pada benda tersebut dan tidak berhubungan dengan nilai fungsi benda tersebut.
  2. Ragam hias simbolis ialah ragam hias yang selain berfungsi memperindah juga memiliki makna tertentu yang bersumber dari adat istiadat, agama maupun sistem sosial, yang harus ditaati norma – normanya untuk menghindari salah pengertian bagi pengguna ragam hias tersebut. Contoh ragam hias ini diantaranya kaligrafi, ragam hias pohon hayat, ragam hias burung phoenix,ragam hias swastika dan sebagainya.

(Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Kerajinan tekstil tradisional Indonesia

Kerajinan tekstil tradisional Indonesia
Karya kerajinan tekstil tradisional Indonesia, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut:
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang yang melindungi tubuh, seperti kain panjang, sarung dan baju daerah
b. Sebagai alat bantu atau alat rumah tangga, seperti kain gendongan bayi dan untuk membawa barang
c. Sebagai alat ritual (busana khusus ritual tradisi tertentu), contohnya:
– Kain tenun ulos
– Kain pembungkus kafan batik motif doa
– Kain ikat celup Indonesia Timur ( penutup jenazah)
– Kain tapis untuk pernikahan masyarakat daerah Lampung
– Kain Cepuk untuk ritual adat di Pulau Nusa Penida
– Kain Songket untuk pernikahan dan khitanan
– Kain Poleng dari Bali untuk acara ruwatan (penyucian)
(Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Kerajinan Tekstil modern.

Kerajinan Tekstil modern.
Karya kerajinan tekstil, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut:
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang dan fashion.
– Busana
– Aksesoris
– Sepatu
– Topi
– Tas
b. Sebagai pelengkap interior
– Kain tirai
– Kain salut kursi
– Perlengkapan rumah tangga (cempal, alas makan dan minum, tudung saji, sarung bantal, seprei, keset, lap, dll)
– Aksesoris ruangan (wadah tisue, taplak, hiasan dekorasi ruangan, kap lampu, dll)
c. Sebagai wadah dan pelindung benda
– Tas laptop
– Aneka tas
– Aneka dompet
– Dan lain – lain
(Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Gabardine

Gabardine:
a. Bahan tenunan bergaris, berwarna terang, serta bergurat diagonal. Gabardine dapat dibuat dari serat alami maupun sintetis. Bahan ini telah digunakan sejak abad ke – 19 untuk setelan, mantel, gaun, rok dan celana.
b. Nama dagang dengan hak cipta terdaftar.
(A to Z Istilah Fashion. Goet Poespo. Penerbit Gramedia)

Fichu

  1. Selendang kecil (scarf atau syal (shawl)) yang dipakai disekitar pundak atau leher dan dikencangkan dengan sebuah bros pada dada. Fichu juga dapat digunakan untuk menyebut kerut atau jumbai atau sepotong bahan, biasanya renda, yang dijahit melintang dada pada sebuah blus atau gaun.
  2. Selendang besar yang dilipat diagonal membentuk segitiga, dipakai dipundak dan menyilang di dada.

(A to Z Istilah Fashion. Goet Poespo. Penerbit Gramedia)

Dolman

Dolman:

  1. Pakaian pria panjang serupa mantel yang berasal dari Turki. Dolman pertama kali diadaptasi menjadi pakaian modis pria pada abad ke – 18 sebagai sebuah jubah longgar berlengan. Pada abad berikutnya diperkenalkan dengan bentuk bervariasi sebagai pakaian luar, biasanya berlengan tigaperempat longgar dan terdapat kancng pada bagian leher.
  2. Pada abad ke – 20, istilah Dolman dipakai untuk busana wanita berlengan longgar ndan memiliki trim renda, jumbai atau kerut. Bentuk dolman juga ditiru untuk mantel, yang seringkali dibuat dari cashmere, beludru, wol dan bahan bermotif “paisley”.

(A to Z Istilah Fashion. Goet Poespo. Penerbit Gramedia)