pola busana

pola busana adalah pola yang telah diubah berdasarkan desain dari busana tersebut. Untuk membuat pola busana dapat dengan pengembangan, pecah pola ataupun mengkonstruksi pola berdasarkan model dan analisis model seperti pola blus yang terdiri dari pola blus muka, belakang, lengan, kerah dan perlengkapan lainnya seperti saku kalau ada sesuai dengan model, semua lengkap dengan tanda – tanda pola seperti tanda arah benang, tanda lipatan, tanda kampuh dan sebagainya. (Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Piama

Piama adalah sejenis pakaian malam. Piama biasanya terdiri dari dua potong pakaian, walaupun ada juga yang terdiri dari satu potong. Biasanya digunakan oleh anak – anak, namun juga orang dewasa. Terutama di musim dingin. (Prakarya dan kewirausahaan Tata Busana di Madrasah Aliyah. Penulis Dr.Suprihatiningsih. Penerbit deepublish)

Pewarnaan ulos

Pewarnaan ulos. Pewarnaan merupakan salah satu proses paling rumit dalam pembuatan benang ulos. Dalam proses ini biasanya digunakan bahan – bahan alami, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kegiatan untuk mendapatkan warna merah “manubar” dan untuk mendapatkan warna hitam disebut “mansop” sementara orang yang melakukan pewarnaan disebut “parsigira”. (Kain – kain tekstil di Indonesia. Penulis Cepy Suherman. Penerbit Talenta Pustaka Indonesia)

Pewarna

Pewarna. Pewarna tekstil terdiri atas zat pewarna alam dan zat pewarna sintetis. Zat pewarna alam berasal dari tumbuhan atau hewan. Tekstil tradisional Indonesia pada zaman dahulu menggunakan pewarna alam seperti daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (ceriops candollena arn), kayu tegeran (Cudraina Javenensis), kunyit (curcuma), teh (tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia) yang menghasilkan warna merah, berasal dari Tiur tengah dan dibawa ke kepulauan Indonesia melalui pedagang India, kulit soga jambal (pelthophorum ferruginum), kesumba (bixa orelana) dan jambu biji (psidium guajava). Pewarna alami mudah diserap oleh tekstil dari bahan alami, terutama sutra, namun tidak oleh tekstil dengan bahan sintetis. Zat pewarna sintetis adalah zat pewarna buatan yang dibuat dari ter, arang, batu bara atau minyak bumi. Zat pewarna sintetis lebih mudah diperoleh dipasaran, memiliki keragaman warna lebih banyak dan menyediakan warna terang. Zat warna sintetis dapat menghasilkan warna yang konsisten atau sama, dan mudah diserat oleh tekstil dengan serat alami maupun tekstil dengan serat sintetis. Kelemahan pewarna sintetis adalah belum tentu aman untuk manusia dan alam. (Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Pewarna kain Sasirangan

Pewarna kain Sasirangan. Secara umum, ada dua macam bahan yang digunakan sebagai pewarna, yaitu pewarna alami dan pewarna kimiawi, bahan pewarna alami diantaranya daun pandan, temulawak dan akar – akar. Oleh karena bahan – bahan pewarna sulit, maka para pengrajin kain Sasirangan banyak beralih menggunakan pewarna kimia. (Kain – kain tekstil di Indonesia. Penulis Cepy Suherman. Penerbit Talenta Pustaka Indonesia)

Peran busana sebagai penjelas atau penguat

Peran busana sebagai penjelas atau penguat. Busana juga dapat menjadi penjelas atau penguat bahasa verbal yang kurang dimengerti diantara para peserta komunikasi pribadi. Ketidakjelasan komunikasi verbal disebabkan oleh sesuatu atau karena disengaja. Contohnya seorang anak laki – laki yang hendak pergi ke masjid memakai busana lengkap ibadah yaitu sarung dan kopiah, lalu dia bertemu dengan temnnya diseberang jalan, kemudian, temannya bertanya, “mau kemana?” “mau ke masjid” jawabnya. Saat anak tersebut menjawab pertanyaan temannya, tiba – tiba ada suara motor yang sangat kencang sekali sehingga jawabannya didengar tidak jelas. Meski temannya mendengar tidak jelas, tetapi tidak mengulangi pertanyaan karena busananya sudah menjadi penjelas dan penguat jawaban. (Komunikasi dibalik busana. Penulis Sihabuddin. Penerbit Arruzz Media 2019)

Peran busana

Peran busana sebagai pelengkap komunikasi verbal jika komunikasi verbal yang diucapkan tidak sempurna atau ambigu karena ada yang mengganggu jalannya komunikasi. Bisa juga karena komunikasi verbal sengaja tidak di lengkapi karena busana yang dipakai sudah menjawabnya. Busana yang dikenakan salah satu peserta komunikasi antarpribadi juga menjadi pelengkap komunikasi verbal orang yang melhatnya atau orang yang memperhatikan busana orang lain. Contohnya seorang mahasiswa yang hendak pergi ke kampus memakai jas almamater kampus dengan naik bus. Didalam bus dia ditanya oleh seseorang, “kuliahnya semester berapa?” si penanya akan menanyakan semesternya berapa bukan kampusnya terlebih dahulu bukan kampusnya terlebih dahulu. Hal ini karena penanya sudah tahu mahasiswa tersebut berasal dari kampus yang terkenal dikotanya dilihat dari jas almamater yang dikenakannya. (Komunikasi dibalik busana. Penulis Sihabuddin. Penerbit Arruzz Media 2019)

Peplos dan haenos

Peplos dan haenos yaitu busana wanita Yunani Kuno yang bentuk dasarnya sama dengan chiton, ada yang dibuat panjang dan ada yang pendek. Pada agian bahu ada lipit – lipit yang ditahan dengan peniti dan ada kalanya pada pinggang juga dibuat lipit – lipit sehingga terlihat seperti blus. Peplos dari Athena memakai ikat pinggang yang diikat diatas lipit – lipit di pinggang. (Belajar Tata Busana Mudah dan Menyenangkan. Mila Fadila. Penerbit LKP)

Penyetrikaan (pressing)

Penyetrikaan (pressing). Penyetrikaan yang dimaksud merupakan penyetrikaan akhir sebelum pakaian dipasang label dan dikemas. Pressing ini bertujuan untuk menghilangkan kerutan – kerutan dan menghaluskan bekas – bekas lipatan yang tidak diinginkan, membuat lipatan – lipatan yang diinginkan, menambah kerapian dan keindahan pada pakaian serta untuk memberikan finsih akhir pada pakaian setelah proses pembuatan. (Prakarya dan kewirausahaan Tata Busana di Madrasah Aliyah. Penulis Dr.Suprihatiningsih. Penerbit deepublish)

Penomoran benang

Penomoran benang. Untuk mnyatakan kehalusan suatu benang dapat dinyatakan dengan perbandingan antara panjang dengan beratnya. Perbandingan tersebut dinamakan nomor benang. (Fashion Tekstil. Penulis : Adi Kusrianto. Penerbit :Andi Yogyakarta)