Serat

Serat. Serat alam yang digunakan untuk tekstil terdiri dari serat yang berasal dari tumbuhan diantaranya kapas, batang rami, nanas, batang pisang. Serat alami yang berasal dari hewan seperti wol dari bulu biri – biri dan sutra dari kepompong ulat sutra. Serat alami lainnya adalah serat dari logam seperti benang emas dan perak yang digunakan pada tenun Songket dan Tapis. Serat organik pada umumnya lebih mudah menyerap keringat, lebih terasa sejuk pada tubuh (tidak panas), namun mudah kusut sehingga memerlukan penyetrikaan panas dan rentan terhadap jamur. Tekstil dengan bahan organik dapat rusak jika direndam pada deterjen selama lebih dari 2 jam. Serat bahan sintetis berasal dari polyester (serupa dengan plastik), yaitu nilon, acrylic, spandex dan lain – lainnya. Serat sintetis memiliki elastisitas yang baik sehingga tidak mudah kusut dan tidak memerlukan penyetrikaan panas, namun daya serapnya rendah, sehingga kurang nyaman dan kurang terasa sejuk pada tubuh. Tekstil dari seart sintetis tahan terhadap bakteri dan jamur serta tahan terhadap pelarut organik dan kimia/dry cleaning. Serat semi sintetis adalah serat rayon yang terbuat dari polimer dari bahan organik karena tidak sepenuhnya organik dan tidak sepenuhnya sintetais. Serat campuran, dibuat dari bahan campuran organik dan sintetis, untuk mengurangi kelemahan dari sifat salah satu bahan. (Keterampilan Tata Busana di Madrasah Aliyah jilid 1. Penulis Dr. Hj. Suprihatiningsing. Penerbit Deepublish)

Serat wol

Serat wol. Wol adalah serat yang berasal dari biri – biri. Jenis biri – biri dapat menentukan wol yang dihasilkan, terutama ukuran diameter dan panjangnya. Selain itu berpengaruh pula terhadap kekuatan, kilau, keriting, warna dan banyaknya kotoran pada serat wol. (Ilmu Tekstil. Penulis : Dewi Suliyanthini. Penerbit: Rajawali Pers)

Serat tumbuh – tumbuhan

Serat tumbuh – tumbuhan yaitu serat tekstil yang bahan pokoknya berasal dari tumbuh – tumbuhan. Serat selulosa mengandung zat arang (C), air (H) dan zat asam (O). Serat selulosa terbagi menjadi serat biji, serat batang,serat daun dan serat buah. Pada umumnya mempunyai sifat yang hampir sama yaitu kuat, padat, mudah kusut, tahan setrika dan tahan chlor. (Belajar Tata Busana Mudah dan Menyenangkan. Mila Fadila. Penerbit LKP)

Serat tekstil

Serat tekstil adalah bagian terkecil dari kain. Terdiri dari serat alam dan serat buatan. Serat alam di peroleh dari tanaman, binatang dan serat buatan dibuat dari serat sintetis. Dari serat tekstil kemudian dipintal (maupun tanpa dipintal) hingga menjadi benang. (Fashion Tekstil. Penulis : Adi Kusrianto. Penerbit :Andi Yogyakarta)

Serat sutera

Serat sutera. Sutra adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidoptra. Serat sutera yang berbentuk filamen dihasilkan larva ulat sutera sewaktu membentuk kepompong. Spesies utama dari ulat sutera yang dipelihara untuk menghasilkan serat adalah Bombyx mori. Sutera memiliki sifat berkekuatan tinggi, daya serapnya tinggi, pegangannya lembut, tahan kusut sifat menggantung baik, dan kenampakannya mewah, maka bidang penggunaan sutera sangat luas, baik tekstil untuk pakaian maupun tekstil untuk rumah tangga. Tetapi karena harganya mahal, penggunaannya terbatas, terutama untuk bahan pakaian dengan mutu yang sangat tinggi misalnya pakaian wanita, kaos kaki, dasi, saputangan, dll. (Ilmu Tekstil. Penulis : Dewi Suliyanthini. Penerbit: Rajawali Pers)

Serat sunn

Serat sunn adalah serat yang didapat dari batang tanaman Crotalaria Juncea. Serat ini dikenal sejak zaman prasejarah terutama di India dan Pakistan. Negara utama penghasil serat Sunn adalah India dan sebagian kecil dihasilkan oleh Uganda. (Ilmu Tekstil. Penulis : Dewi Suliyanthini. Penerbit: Rajawali Pers)

Serat selulosa

Serat selulosa merupakan suatu contoh jenis senyawa yang dapat menghasilkan berjenis – jenis serat. Beberapa jenis serat dari serat selulosa alam yaitu kapas, linen, jute, renep dan rami. Serat setengah buatan atau serat selulosa yang digenerasi misalnya serat – serat rayon, dibuat dengan cara melarutkan dan menggumpalkan kembali senyawa selulosa yang berasal dari pulp kayu. (Ilmu Tekstil. Penulis : Dewi Suliyanthini. Penerbit: Rajawali Pers)

Serat poliester

Serat poliester pertama kali diperkenalkan ke masyarakat Amerika oleh DuPont pada tahun 1951 sebagai kain ajaib yang tidak perlu disetrika. Poliester merupakan sebuah bahan yang spesifik, lebih sering merujuk pada polietilena tereftalat (PET). Poliester termasuk zat kimia yang alami atau organik, seperti kulit ari tumbuhan, maupun zat kimia sintetis seperti polikarbonat dan polibutirat. Poliester adalah suatu kategori polimer yang mengandung gugus fungsional ester dalam rantai utamanya. Benang poliester yang ditenun, digunakan untuk pakaian dan perlengkapan rumah seperti seprai, ranjang, penutup tempat tidur, tirai dan gorden. Dalam dunia industri digunakan dalam penguatan ban, tali, kain belt, konveyor, sabuk pengaman, kain berlapis dan penguatan plastik dengan tingkatan penyerapan energi yang tinggi. Hollow fill dari poliester digunakan pula untuk mengisi bantal dan selimut penghangat, biasanya dengan merk Dacron. (Fashion Tekstil. Penulis : Adi Kusrianto. Penerbit :Andi Yogyakarta)

Serat nanas

Serat nanas (pina fiber)/ananas comosus, seratnya berwarna putih semu kuning gading secara alami dan permukaannya mengkilap. Kain yang ditenun dari serat nanas seolah tembus (transluen), lembut, dan halus dengan kilau tinggi. Serat nanas sering dicampur dengan kapas, abaka, sutra maupun poliester untuk menciptakan cahaya indah dan kain berangin. Mengingat kain pina adalah karya tenun tangan dan hanya beberapa penenun, oleh karenanya produk dari serat nanas berharga dan langka. Kain serat nanas sangat tepat digunakan pada malam hari karena kain ini akan memberikan kehangatan pada pemakainya. Sebagai serat yang mengandung selulosa, serat nanas dapat dijadikan bahan kain untuk membuat batik tulis. Hal ini mengingat serat nanas dapat diwarnai menggunakan pewarna yang umum digunakan pada proses pewarnaan batik. (Fashion Tekstil. Penulis : Adi Kusrianto. Penerbit :Andi Yogyakarta)

Serat modal

Serat modal dikembangkan di Jepang pada tahun 1951. Modal terbuat dari pohon beech yang dipanen dengan metode ramah lingkungan untuk membuat pulp. Karena tingginya permintaan terhadap serat rayon yang memiliki kekuatan saat basah lebih tinggi menyebabkan perkembangan dari modal sebagai generasi kedua dari serat selulosa ini. Modal adalah modulus basah tinggi dari serat rayon yang memiliki sifat hampir sama seperti rayon biasa, ditambah kekuatan basah tinggi dan kelembutan ekstra seingga sangat berguna untuk kontak tubuh pakaian seperti lingerie dan pakaian. (Fashion Tekstil. Penulis : Adi Kusrianto. Penerbit :Andi Yogyakarta)